Julyanto Sutandang
3 min readMay 26, 2021

--

Selamat kembali pada keheningan Trisuci Waisak 2565/2021

Hindari perbuatan jahat, Tambahkan perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiran. Itulah inti dasar ajaran Buddha.

Tidak berlebihan, apa adanya, secara sederhana 3 hal diatas adalah rangkuman utama dari ajaran Buddha yang sampaikan selama 45 tahun hampir 26 abad yang lalu. Lebih singkat lagi, dari 3 kalimat rangkuman tersebut, dapat disampaikan menjadi 1 hal yang paling dasar, adalah Ikhlas.

Ikhlas atau lila, rela, atau melepaskan kemelekatan, dan pada akhirnya melepaskan ego atau keakuan. Tidak adanya ego (let go ego) tidak ada kepemilikan tidak ada kemelekatan dan oleh karenanya tidak ada penderitaan. (karena tidak ada “aku” yang menderita)

Meskipun demikian, melaksanakan apa yang ditemukan dan diajarkan oleh Buddha ribuan tahun yang lalu tidak juga mudah, meski tidak susah sebenarnya.

Bilamana kita tidak mengembangkan pikiran yang buruk, menyadari dan menghindari munculnya ucapan yang buruk, menghindarkan kita dari perbuatan yang jahat. Dengan selalu berusaha untuk mengembangkan pikiran yang baik, mendorong ucapan yang baik, serta membimbing tindakan yang baik, dengan demikian, memperbanyak perbuatan baik.

Perbuatan jahat mengacaukan pikiran kita, membuat konsentrasi kita berkurang, hati kita kemrungsung, jiwa kita labil, pada akhirnya membuat hidup kita menjadi semakin menderita, yang terlihat maupun yang tidak terlihat.

Sebaliknya, perbuatan baik menenangkan pikiran kita, hati kita jadi adem, ketika mata terpejam senyum terkembang dengan sendirinya. setiap perbuatan baik yang kita lakukan lewat tindakan, ucapan maupun pikiran, menjadi titik mula berkembangnya kebahagiaan dalam pikiran kita, menjadi trigger untuk perbuatan baik berikutnya, menjadi dasar perkembangan kebahagiaan dalam diri dan hidup kita ke depannya.

Demikian pula sebaliknya, setiap perbuatan buruk yang kita lakukan menjadi titik mula hilangnya konsentrasi, rasa mengganjal dalam hati kita…dan seterusnya…

Hindari.

Menghindarkan perbuatan buruk, dan memperbanyak perbuatan baik, mendukung terciptanya pengembangan pikiran positif dan konsentrasi yang baik dalam hidup kita. Pikiran yang tenang dan positif, dapat kita gunakan untuk membersihkan hati, hati yang terbebas dari rasa benci, rasa iri hati, serakah dan keras kepala.

Hati yang dibersihkan agar dapat menjadi ladang yang subur untuk berkembangnya rasa cinta kasih tanpa pamrih seperti sayangnya ibu kepada anaknya yang tunggal, yang tidak pernah mengharap kembali. Cinta kasih tanpa pamrih, seperti guru yang mengajar muridnya agar menjadi orang besar di kemudian hari, penuh kasih tanpa mengharap balas jasa. (duh jadi sedih). Cinta yang kita berikan kepada setiap makhluk di sekeliling kita demi kebahagiaan mereka tanpa kita mengharap balas kembali, akan berkembang menjadi kebahagiaan di kemudian hari.

Hati yang bersih menjadi tempat berkembangnya welas asih kita terhadap sesama, terhadap mereka yang membutuhkan, terhadap semua makhluk hidup seperti halnya kita yang tidak ingin mengalami kesakitan atau penderitaan, demikian pula mereka. Welas asih yang kita kembangkan menghindarkan munculnya rasa serakah dalam hati kita.

Hati yang bersih menjadi media yang subur untuk saling ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kita sayangi, baik yang dekat dengan kita maupun yang jauh. rasa empati yang tinggi menghindarkan kita dari sifat irihati yang penuh dengan kedengkian.

Pengembangan pikiran yang baik, menghindarkan kita dari perbuatan buruk, memfasilitasi ucapan dan perbuatan kearah kebaikan yang akan semakin mendukung kita untuk mengembangkan pikiran yang baik, demikian seterusnya.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Semoga Anda dan saya semuanya berbahagia, pada waktunya nanti akan melihat kebenaran sejati, yang hakiki di alam semesta.

Rabu, 26 Mei 2021

--

--

Julyanto Sutandang

Technopreneur, System Developer, PostgreSQL Expert, run IT Solution for High Performance System, call me: +628111188812 (julyanto@equnix.asia)